Artinya kurang lebih “apa bahasa asalmu?”, atau “ente sehari-hari ngomong pake bahasa apa?”
Penggunaan bahasa bisa dibilang sebagai suatu fenomena yang universal. Coba bayangkan, ada berapa banyak bahasa yang digunakan di dunia ini. Banyaknya jumlah bahasa yang ada salah satunya bisa jadi karena bahasa itu merupakan suatu kesepakatan umum yang sifatnya suka-suka atau arbitrary.
Sedikit mengutip makalah yang gw buat bersama beberapa teman tentang pengajaran bahasa waktu semester 3 lalu dengan mengacu dari berbagai sumber, gw coba jelasin dulu tentang bahasa ibu dan bahasa kedua.
Bahasa pertama (bahasa asli, bahasa ibu; secara harafiah mother tongue dalam bahasa Inggris) adalah bahasa yang mula-mula sekali dikuasai oleh seseorang sejak dia masih kanak-kanak yaitu sebelum dia mempelajari bahasa asing atau bahasa kedua. Orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama dari keluarga mereka.
Istilah bahasa kedua atau second language digunakan untuk menggambarkan bahasa-bahasa apa saja yang penguasaannya dimulai setelah masa anak-anak awal (early childhood), termasuk bahasa ketiga atau bahasa-bahasa lain yang dipelajari kemudian. Bahasa-bahasa yang dipelajari ini disebut juga dengan bahasa target (target language).
Nah, sebagai warga negara Indonesia, tentulah kita sehari-hari pakai bahasa Indonesia, betul? Sebagian ada juga yang mengombinasikannya dengan bahasa daerah masing-masing. Berarti bisa dibilang itulah bahasa pertama kita.
Di rumah gw sendiri, kami memakai bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi, malah sering dicampur-campur dengan berbagai bahasa daerah, seperti bahasa Sunda (mengacu pada tempat tinggal), bahasa Jawa (mengacu pada suku asal), dan bahasa Ambon (mengacu pada tempat kelahiran).
Terkadang kalau lagi kambuh, malah suka pakai bahasa asing dengan sangat kacrut dari segi penggunaan. Paling sering bahasa Inggris sih, walau penggunaannya cuma sekitar 0.1%.
Belakangan adinda tercinta lagi menularkan virus korea, jadi sedikit-sedikit nyeplos juga, walau cuma kata macem “annyeonghaseyo” sama “kamsahamnida”. Atau bahasa Jepang kayak “ohayo gozaimasu”, “arigatou”, atau “aishiteru”, hahaha…
*emang sebatas 5 kata itu yang gw tau*
Dunia sendiri dewasa ini terasa semakin sempit. Mau ke Eropa tinggal naek pesawat, tidur, transit, sampe deh. Mau ke Amerika, tinggal check-in, take-off, landing, selesai. Mau ke Singapura, tinggal ngedip. Dengan sarana transportasi yang kian maju dan mobilitas yang makin tinggi, dunia serasa dalam genggaman (baiklah, gw akui ini lebay).
Dulu waktu jaman masih SD, inget banget tuh kalau ada bule lewat pasti langsung bisik-bisik ke temen sebelah sambil mata ngekor dan tangan ngulur ke dompet bule itu (loh?). Sekarang, liat orang asing ternyata udah ga memberikan passion yang sama. Jadi pemandangan biasa. Banyak bertebaran. Sepuluh ribu dapat tiga (koq?). Pokoknya, bukan hal aneh kalau banyak orang asing seliweran.
Karena alasan di atas pula, kampus gw beberapa kali dapet kunjungan dari luar negeri dan secara kebetulan gw hadir di sana. *bukan, bukan buat nyopet!*
Gw inget sekali ada di acara malam persahabatan mahasiswa asing di IPB, gw agak melongo waktu menyadari ternyata di kampus gw banyak juga orang luarnya. Mulai dari yang putih, yang hidungnya mancung, yang sedikit gelap, yang matanya sipit. Gw juga pernah accidentally ketemu tamu dari Jepang sama Korea. Dan karena bahasa Inggris kami, yang direncanakan menjadi bahasa komunikasi utama, ternyata sama-sama standar, maka bahasa tubuh menjadi favorit. Horray…!!!
Karena hal itulah, maka gw terdorong untuk belajar bahasa asing, senggaknya bahasa Inggris little little I can lah yah. Jadi, untuk seterusnya, gw akan mencoba posting dengan bahasa Inggris. Kalau ada yang salah, silakan diketawain dengan syarat memberi tahu pembenarannya. Wokeh??
Okelahkalaubegitu, hope you all guys have a great weekend then.
Ciao..!!
Love being myself. [diaprilize]